Pitfall Sedates Bronx Cheer

Aku terpaku menatap layar komputer yang menampilkan gambar-gambar wanita tak berpakaian. Mereka terlihat begitu indah, dengan dada yang terlihat penuh, lekukan tubuh yang melengkung dengan begitu sempurna, mata yang begitu hidup, ekspersi wajah yang begitu lepas dan cerah. Pandanganku kemudian terhalangi olehnya yang sudah kembali dari kamar mandi. Setiap malam akan selalu seperti ini, dia pulang dari bekerja di depan komputer untuk kembali berada di depan komputer di rumah, membuka gambar-gambar wanita itu untuk beberapa saat diselingi dengan membuka foto-foto wanita yang berpakaian, entah kenapa ada yang berbeda di antara ekspresi wajah wanita bugil dan wanita yang berpakaian. Ekspersi wanita-wanita yang berpakaian tampak lebih hidup, mata mereka tampak lebih bersinar, senyum mereka lebih melengkung dan tampak asli. Aku sangat iri kepada mereka. Ah dia sudah datang. Memang setelah dia melihat gambar-gambar itu, dia akan menghampiriku yang bersandar lemas di kasur menghadap ke layar komputer, dia akan memasuki anggota tubuhnya ke dalam lubang yang ada tubuhku lalu dia akan menggerakkan pinggulnya hingga dari anggota tubuhnya itu menembakkan cairan putih dan hari ini pun tak ada bedanya, ritual yang sama yang selalu terjadi setiap hari dan aku menjalaninya tanpa mengeluh sekalipun, karena aku adalah Sabrina, sang sex doll sempurna. Setidaknya begitu lah aku diiklankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s