falling asleep and waking up

Aku terbangun dengan lelah
Aku terbangun dengan lelah dan ini sudah tengah hari
Aku terbangun dengan lelah dan aku sendirian

Setiap malam aku tertidur dengan dirimu dalam pikiranku, dan aku dengan cepat memilih pikiranku, meninggalkan yang terindah di paling atas, hingga aku bisa mencobanya di pagi hari. Setiap hari, aku terbangun dan mencoba untuk jatuh cinta padamu. Kecuali setiap pagi, itu terasa tiga inci terlalu besar atau satu setengah senti lebih kecil atau terasa menggosok tempurung lututku seperti itu terlalu panjang. Tapi aku tetap memakainya, karena aku telah terbiasa di garis batas kenormalan atau dua langkah melewati kegilaan. Aku terbiasa memakai cinta dan aku terbiasa denganmu

Aku terbiasa tertidur dengan kamu di sisiku dan terbangun sendiri

Kamu memanggilku
Kamu memanggilku tampan dan aku menyukainya
Kamu memanggilku milikmu dan itu terasa seperti dongeng

Kita menghabiskan akhir pekan bermain di atas danau yang menjadi es seperti cermin, menggoreskan cerita kita di atas permukaan yang membeku, dan kamu menulis tentang petualangan yang takkan pernah kau miliki dan tempat yang takkan pernah kau datangi dengan seorang pria yang selalu aku harap adalah aku. Dan aku menulis tentangmu, tentang kulit lembut bercahaya milikmu dan tentang anak rambut yang bersandar lemas di dahimu. Aku menulisnya seperti sebuah dongeng. Aku menulis seakan-akan telefon selalu berbunyi dan selalu kamu yang ada di seberang sana. Aku menulis seakan-akan kita saling mencinta.

Aku menulis bahwa aku tertidur sendiri dan terbangun dengan kamu di sampingku

Aku berbaring
Aku berbaring di dalam lautan selimut dan merasa tenggelam
Aku berbaring di sisimu dan untuk pertama kalinya, itu terasa nyaman

Mungkin kita tertidur di ujung kasur yang berlawanan, takut jika tulang-tulang kita tidak cocok atau bibir kita tidak terkunci dan kita tidak akan terus bersama. Maka kita berbaring dengan jarak di antara kita tapi dengan siku mengetuk satu sama lain hanya tiga senti dari hati kita. Kita tertidur seperti ini karena takut akan apa yang akan terjadi jika tidak ada lapisan dan alasan diantara kita. Maka aku menutup diriku dengan selimut-selimutmu dan menatap langit-langit karena sebenernya yang aku inginkan hanyalah menatapmu. Kamu selalu menanyakan apa yang sebenarnya aku pikirkan. Dan aku berbohong. Aku berkata aku memikirkan untuk pulang. Aku berkata aku mencintai wanita yang tinggal di ujung jalan, atau terkadang, aku merasa bintang-bintang berpendar kepadaku.
Kamu bertanya apa yang aku pikirkan dan kali ini aku akan katakan yang sebenarnya

Aku berkata aku memikirkan tentang tertidur dan terbangun dengan dirimu di sisiku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s