Treseis

Sebuah boneka beruang kecil berwarna hitam dengan angka 6 di wajah dan di kedua lengannya membuat saya iri malam ini.

Biar saya bercerita soal boneka ini terlebih dahulu. Awalnya saya sedang bermain di sebuah tempat permainan. Saya sudah menggenggam tiket hadiahnya cukup banyak meskipun saya tak bermaksud mengumpulkannya untuk ditukar dengan hadiah apa pun, saya hanya bermain game yang menarik dan kebetulan game itu mengeluarkan tiket hadiah. Saya pun berjalan di depan etalase hadiah-hadiah yang bisa ditukar dengan sejumlah tiket, tidak ada yang menarik di mata saya sampai saya melihat boneka beruang hitam itu. Saya langsung menyukainya saat itu juga, karena saya sudah sering melihatnya, di berbagai versi, tapi belum pernah memilikinya. Dengan semangat, saya menghampiri bagian penukaran dan menghitung apakah tiket yang saya miliki sudah cukup untuk ditukar dengan boneka itu. Kekecewaan menghampiri saya ketika tiket milik saya belum memenuhi jumlah yang bisa ditukar dengan beruang hitam itu.

Tak pantang menyerah, saya mengisi ulang saldo kartu untuk bermain saya dan kembali ke mesin game yang daritadi terus mengeluarkan tiket hadiah untuk saya. Seakan ingin menyulitkan niat saya untuk memiliki boneka itu, mesin game itu rusak (atau lebih tepatnya saya yang merusak mesin itu). Saya beralih ke mesin yang lebih mudah dan lebih banyak menghasilkan tiket asal mengerti cara memainkannya. Beruntunglah saya, karena saya sering memperhatikan ayah saya yang cukup ahli memainkan mesin itu hingga akhirnya saya berhasil mendapatkan sederet panjang tiket dari mesin bergambar dinosaurus di tengahnya itu. Dengan keyakinan penuh, saya kembali ke bagian penukaran dan menukar tiket yang saya miliki dengan boneka itu. Rasa senang menjalari saya karena ini pertama kalinya saya merasa mengalahkan tempat bermain seperti itu dan boneka itu adalah trophy untuk kemenangan saya. Saya juga mengambil dua boneka berukuran kecil, boneka sapi dan singa, karena saya masih memiliki sisa tiket untuk ditukarkan.

Tapi kemudian kebingungan menghampiri saya, saya tidak yakin bisa menyimpan ketiga boneka ini dengan rapi hingga tidak hilang begitu saja untuk waktu yang lama. Karena tidak ingin trophy ini hilang tanpa jejak, saya menghubungi wanita yang sekarang menjadi penghuni otak dan hati saya lalu menawarkan tiga boneka ini untuk jadi miliknya, dia pun mengiyakan. Jujur saja, ada niat lain selain menyimpan trophy ini ketika saya menghubunginya dan ingin memberikan ketiga boneka ini padanya, wanita katanya suka dengan boneka beruang, meskipun saya yakin bukan boneka beruang yang saya miliki yang dimaksud tapi setidaknya milik saya itu tetap boneka beruang, jadi ya siapa tau dia akan suka dengan boneka itu dan suka dengan saya sebagai pemberinya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

“Jika saya bisa membuat boneka beruang ini berdiri, kamu harus ngecup pipi saya”

Kata-kata itu saya lontarkan kepada sang wanita, yang dengan mengejutkan menyanggupi permintaan saya yang menurut saya aneh dan egois mengingat posisi kami saat itu masih sebatas teman. Lalu kemudian, boneka beruang yang akhirnya berdiri itu menjadi saksi bisu kekasih saya untuk pertama kalinya mengecup pipi saya. Kenangan yang masih membuat saya tersenyum jika mengingatnya. Kecupan di pipi pertama yang saya dapatkan dari kekasih saya bisa terjadi karena boneka itu, saya berhutang padanya.

Kemudian kami, saya dan kekasih saya, memanggil boneka itu dengan nama Treseis. Diambil dari bahasa spanyol, ‘Tre’ yang berarti tiga dan ‘Seis’ yang berarti enam. Tiga enam. Karena di tubuhnya terdapat tiga angka enam, di wajah dan di kedua bahunya. Sebenarnya saya tidak tahu apakah dalam bahasa spanyol, padanan kata untuk nama itu benar atau tidak tapi saya tidak perduli karena nama Treseis terdengar keren.

Sekarang kita kembali membahas soal saya yang sedang iri dengan boneka beruang hitam itu, Treseis. Suatu ketika saya bertanya kepada kekasih saya soal dimana Treseis di simpan olehnya dan di kamarnya adalah jawabannya. Jadi di malam ketika saya sedang rindu kekasih saya tapi saya tidak bisa bertemu dengannya, seperti malam ini, saya iri dengan Treseis karena dia berada di kamar kekasih saya sementara saya berada di atas kasur sendirian, memikirkan tentang boneka beruang kecil berwarna hitam dan seorang wanita yang memegang hati saya.

Advertisements

2 thoughts on “Treseis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s