Jikalau

“Tanpa basa-basi, langsung saja kita panggil, Sang anak muda berbakat, Adrian Aresto!”

Aku melangkah keluar, melewati tirai begitu mendengar namaku disebut. Penonton langsung bertepuk tangan saat melihat sosokku. Aku menundukkan badanku, sekedar memberi salam. Jumlah mereka sangat banyak, ratusan, atau ribuan mungkin ? Entah lah, aku tidak peduli terhadap mereka, padahal hanya mereka yang seharusnya diperhatikan olehku, aku harus membuat mereka tertarik akan diriku dan kemampuanku tapi bagiku mereka tak lebih dari penonton biasa. Aku tidak akan gugup meskipun ini adalah untuk kali pertama aku menyanyi di depan umum dan harus tampil di depan ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang sekalipun, jika tidak ada dirinya di tengah orang-orang itu. Karena hanya di hadapannyalah aku bisa gugup, dia yang harusnya berhak mendengar permainan yang terbaikku malah lebih sering mendengar nada-nada yang meleset dan suara yang fals karena kegugupanku.

Aku duduk di depan microphone, tanganku menggenggam mantap gitar coklat kesayanganku, aku lalu mengambil nafas dalam-dalam, mengingat alasanku berada di sini… Baiklah, mari kita mulai..

Jikalau telah datang, waktu yang dinanti
ku pasti bahagiakan dirimu seorang, kuharap dikau sabar menunggu

“Suatu saat nanti aku akan bahagiain kamu. Mungkin ga sekarang, mungkin juga ga besok atau lusa, atau minggu depan tapi aku janji aku pasti akan bikin kamu bahagia. Senyum, ketawa lebar. Kita sama-sama berjuang ya!”

Berilah daku waktu, tuk wujudkan semua
janji ini untukmu ku takkan lupa ku harap dikau sabar menunggu. Kupasti akan datang untukmu

“kasih aku waktu untuk latihan lagi. Aku akan latihan lebih keras sampe jari-jari aku kapalan, supaya ga sakit lagi pas main gitar. Aku juga akan latihan nyanyi terus supaya teknik nyanyi aku makin oke! Bukan supaya suara aku bagus, kalo itu ga bisa diapa-apain lagi, udah pas-pasan! Hehehe. Aku pasti wujudin janjiku untuk nyanyiin lagu ini dengan lancar dan sempurna buat kamu. Kamu jangan nyerah dulu, Tungguin ya!”

Untaian kata-kata yang kuucapkan untukmu tak seindah kata cinta yang dia berikan padamu namun kau slalu ada di hatiku.

“Gimana ? Udah oke belum tadi ? Masih banyak salah dan fals nya ya ? hahaha maaf, aku nervous banget soalnya. Jangan dibandingin sama penyanyi aslinya, jauh laah. Yang penting sekarang kamu udah tau kalo aku udah bisa mainin lagu ini, tinggal dipoles dikit lagi deh. Kita sama sama berusaha ya!”

Berilah daku waktu tuk wujudkan semua janji ini untukmu ku tak akan lupa , kuharap dikau sabar menunggu, ku pasti akan datang untukmu

“sedikit lagi ! Sedikit lagi aku bisa untuk nyanyiin lagu ini dengan sempurna untuk kamu, ini artinya sedikit lagi aku bisa nepatin janji aku sama kamu. Kamu dulu selalu ngerek minta dinyanyiin lagu ini kan ? Tenang aja, keinginan kamu akan terpenuhi sebentar lagi ! Makanya ayo buka mata kamu sekarang, sayang…”

Jikalau telah datang, waktu yang dinanti ku pasti bahagia kan dirimu seorang, kuharap dikau sabar menunggu

Masih fals ya tadi ? Padahal aku yakin banget loh kali ini bakal sempurna! Lihat nih, ujung jariku udah keras, udah ga akan sakit lagi kalo main gitar dan teknik nyanyi aku pun udah oke kan? Tapi aku masih nervous kalo nyanyi di depan kamu, makanya salah! Hahaha. Mungkin kalo nyanyi bareng kamu, aku bisa ngebawainnya dengan sempurna. Ayo bangun, sayang, kita nyanyi sama-sama, aku janji ga akan salah kunci atau pun fals kalo nyanyi bareng kamu.. Sayang, buka mata kamu, keluarin suara kamu.. Sayang…. Sayang…”

Setelah itu tak ada lagi dirinya. Olivia Aproditia menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit milik pemerintah. Olivia tak sanggup melawan kanker paru-paru yang terus menggerogotinya. Di usia belia dia telah pergi meninggalkan keluarga, sahabat dan aku, kekasihnya. Olivia pergi, sebelum aku sempat menepati janjiku padanya.

Air mataku menetes tanpa kusadari. Pikiranku terbang kembali ke masa lalu, menggali kenangan yang telah kusimpan rapi, tentang dia yang kucintai, tentang sebuah janji yang belum terpenuhi. Penonton bertepuk tangan meriah seusai nada terakhir tak berbunyi, sorakan-sorakan terdengar memenuhi ruangan. Ini berarti aku memainkan lagumu dengan sempurna. Apakah di surga kamu mendengarnya ? Aku telah memenuhi janjiku padamu, sayang.

Song: Jikalau by Naif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s