hari ke-2 : The conversation

Malam terlihat begitu menenangkan. Seakan berusaha membantuku menghilangkan sakit yang terus menekan di dada. Aku terpaku menatapnya. Menatap hamparan langit hitam tanpa bintang, hanya bulan yang dengan anggun bersinar.

“Apa yang kau lakukan ?” Tanya suara dibelakangku, suara perempuan.

“Ah kau rupanya. Tidak ada, hanya memandang langit malam” jawabku setelah menoleh dan meilhatnya. Sekarang dia sudah di samping ku.

“Menikmati waktu dengan bulan ? Kebiasaan mu yang satu itu tak pernah hilang ya ” dia tersenyum manis. Sayangnya itu terasa pahit untuk ku

“Mungkin hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tenang” aku berpikir sebentar “selain berbicara dan melihat senyumanmu” tambah ku sambil tertawa pelan

“Kau masih saja seperti dulu. Tak pernah berubah…. Tetap penuh canda” ujarnya sambil ikut tertawa

“Beginilah aku. Senang atau sedih, yang akan kau lihat hanyalah senyumanku” aku menatapnya sambil tersenyum

“Itu yang membuatku tak pernah yakin padamu” nada bicaranya berubah serius

“Bisakah kita tidak membahas ini ? Setelah sekian lama kita tak berjumpa, aku hanya ingin berbicara denganmu tanpa mengingat kau telah mengacuhkanku” aku kembali menatap bulan. Berharap dia akan memberi tameng untuk hatiku

“Aku…..” Dia meminum cairan dari gelas kaca yang dia pegang “maafkan aku…”

“Kau tak perlu minta maaf. Aku menyadarinya. Aku tak berhak menuntutmu untuk selalu ada. Aku sahabatmu kan ? Seorang sahabat haruslah mengerti perasaan sahabatnya. Jika kau ingin menjauh, tak perlu ragu untuk melakukannya” jelasku. Tanpa menatapnya. Menyembunyikan air mata yang menggenang berlomba-lomba untuk meloncat dari mataku.

“aku senang kau mengerti itu” meskipun tak menatapnya, aku tahu dia mengatakan itu dengan senyuman di bibirnya.

Pedih. Bulan, tameng yang engkau berikan tak cukup kuat untuk melawan senyumnya.

“Kau tau ?” aku menoleh ke arahnya “senyumanmu bagaikan bunga mawar bagiku”

“Kenapa kau berkata seperti itu ?” Tanya dia dengan wajah penasaran. Oh tuhan, dia begitu mempesona…

“Ya bagaikan mawar. Indah dan menyakitkan disaat yang sama” jelasku

“Menyakitkan ?” Tanya dia tak mengerti

“Terlalu cantik, sampai-sampai hati ini sakit mengingat bahwa senyuman cantik itu terbuat bukan untukku” ucapku setelah menenggak habis minuman di tanganku

“Aku….” Ucap dia pelan

“Kau tak perlu berkata apa-apa. Itu hanya ucapan bodoh dari sang pecundang” aku berusaha keras menahan air mata ketika mengucapkan itu. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa aku adalah sang pecundang.

“Jangan berkata begitu. Kau bukanlah pecundang” kata dia seraya memegang bahuku

“Hey, jangan bersikap seperti ini. Apa jadinya kalau dilihat orang nanti” aku mendorong halus tangannya dari bahuku. Berlawanan dengan hatiku yang terlonjak kegirangan hanya karena sentuhan itu

“Memangnya kenapa ?” Tanya dia

“Apa kata orang bila melihat mempelai pria berbaur dengan tamu sementara sang mempelai wanita ada di beranda memegang bahu seorang pria yang semua orang tau bahwa pria itu pernah nyimpan cinta terhadap sang mempelai wanita ?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s