Hari ke-3 : The Interrogation

Aaah lambat ! Sudah satu jam aku duduk sendiri di sini dan tidak ada yang datang. Hanya ada aku, satu meja besi kecil dan sebuah bangku kayu di seberangnya. Hah! Bangku kayu! Terlalu banyak yang dikorupsi di sini hingga mereka bahkan tak mampu untuk membeli sebuah kursi yang layak untuk diduduki. Kumpulan sampah itu memang sangat tamak! Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru ruangan ini. Kosong. Tapi sebenarnya aku tau ruangan ini tidak sekosong yang aku kira, di belakang tembok sana, di belakang kaca itu ada beberapa orang yang sedang memperhatikanku.. Ahahahaha… Mereka pasti sangat penasaran dengan apa yang akan aku lakukan. Baiklah, akan kuberikan sedikit reaksi untuk kalian, sebuah senyuman kecil pasti cukup untuk mereka… Nah sekarang, apa balasan yang akan kalian berikan padaku ?

krieet

AHAHAHAHAHA! Akhirnyaaaa! Lebih baik aku mendongak melihat langit-langit agar mereka tidak sadar bahwa aku sedang tersenyum lebar.. Begitu lebar hingga semua gigi depanku yang bersih ini terlihat hahahahah! Oke oke, sudah cukup, aku harus bisa sedikit mengontrol diri. Pria tua itu sudah masuk, dan kini duduk di seberangku.. Oh ya ampun, aku masih tidak bisa menahan senyumanku ketika melihat wajahnya yang terlihat lelah itu.. Fufufufu..

“Saudara Jonathan, apa yang anda mau?” Tanya pria setengah baya itu. Setengah baya ? Hartono Kertajasa lebih cocok untuk disebut sebagai orang tua busuk! Lihat saja, rambutnya yang mulai memutih di beberapa tempat! badannya memang masih tegap, ditambah lagi dengan jaket kulit hitam yang dipakainya tapi tetap saja itu tidak bisa menutupi sosok aslinya, orang tua renta yang berjiwa busuk! Akan kupermainkan sedikit setan tua ini akhahahah!

“Apa yang saya mau ? Ah jangan terburu-buru, bapak komisaris polisi Hartono Kertajasa. Santai saja” aku menyandarkan tubuhku di bangku, menatap orang tua itu dengan tajam, tidak lupa untuk terus tersenyum lebar “bagaimana kabar anda ?” Lanjutku dengan suara yang lebih santai

“Jangan buang-buang waktu saya !” Seru pria tua yang bernama Hartono Kertajasa itu sambil menggebrak meja di hadapannya dengan penuh emosi. Wohooo! “Anda adalah pelaku kasus pembunuhan 7 wanita, dua di antaranya adalah remaja! Saya bisa saja membunuh anda di sini dan saya bisa tetap dinyatakan tidak bersalah dengan dalih membela diri dari orang gila seperti anda! Orang tua dari wanita-wanita yang sudah anda bunuh pun pasti tidak akan keberatan dengan hal itu!” Hartono melanjutkan ucapannya masih dengan berapi-api

Lihat ? Busuk kan ? Belum apa-apa dia sudah ingin membunuhku dan berbohong.. Ckckckck.. Orang seperti ini bisa menjadi komisaris polisi ? Membingungkan sekali..

“Cepat katakan, dimana anda simpan mayat mayat wanita itu! Saya sudah sediakan waktu saya hanya untuk memenuhi permintaan anda yang ingin memberitahukan informasi tersebut kepada saya!” Ujar Hartono yang bodoh, masih saja terburu-buru..

Akan kubuat malu setan tua ini.. Orang-orang di balik kaca itu beruntung bisa melihat penampilan khususku ini..

“Hiks.. Hiks..” Ah tidak ada efek yang mampu menggerakkan hati orang lain lebih baik daripada efek tangisan ahahaha! “aku hanya ingin berbicara denganmu, ayah…”

AHAHAHA lihat itu ! Lihat ! Hartono melongo seperti orang tolol ! Sepertinya dia terkejut bahwa aku, anak yang diusirnya ketika berusia 18 tahun, memanggilnya ayah ! Hahahaha! Jangan mimpi, Hartonoooo! Tidak mungkin aku masih mengganggapmu ayahku setelah kau mengusirku hanya karena aku memecahkan aquarium ikan kesayanganmu.. Ya baiklah, aku memang memecahkannya dengan cara membenturkannya ke kepala Mbok Surti hingga pembantu itu mati tapi tetap saja seharusnya seorang ayah tidak mengusir anaknya karena itu kan ? Salah perempuan itu sendiri yang kabur ketika ingin kujadikan pelampiasan hasratku…

“Kamu..” Suara Hartono tampak tercekat.. Entah malu karena akhirnya orang-orang di balik kaca sana akhirnya tau bahwa atasan mereka memiliki anak seorang pembunuh atau karena shock aku memanggilnya ‘ayah’ setelah 15 tahun tidak bertemu.. Pfffft yang benar saja, tak mungkin aku mau mengakui orang korup sepertinya sebagai ayahku “kamu benar-benar membunuh wanita-wanita itu, anakku ?” Tanya Hartono, kali ini dengan suara yang lebih pelan, sepertinya dia tersentuh sekali. Orang bodoh.

Dia memanggilku ‘anakku’ ? Hoek menjijikan! Aku hanya menganggukkan kepalaku, aku tak yakin bisa menahan muntah jika membuka mulut..

“Lalu dimana kamu sembunyikan mayat mereka?” Tanya Hartono lagi, masih dengan suara yang lembut.. Arrggh menjijikan !

Tapi aku harus menahan diri karena sekarang adalah bagian pentingnya! the punchline ! Aku menegakkan badanku hingga lurus sempurna lalu menatap lurus ke arah wajah kakek tua itu.. Dengan perlahan aku menggerakkan kedua tanganku yang tengah diborgol itu ke atas perut lalu menepuk perutku beberapa kali… Memberi isyarat bahwa seakan aku telah memakan mereka.. Yah tapi memang itu yang sebenernya terjadi HAHAHAH!

OH YA AMPUN ! Wajah Hartono terlihat seperti anak kecil yang baru saja diberitahu bahwa santa claus itu tidak nyata! Wajah ketakutan dicampur dengan terkejut ! Tolol ! HAHAHAHA !

“Kamu.. Memakannya ?” Hartono kembali bertanya dengan nada kaget, ah orang tua ini selalu bertanya! Ini tidak semenyenangkan yang kukira, sebaiknya aku akhiri saja..

Aku meninggikan volume suara tangisanku hingga terdengar meraung-raung dan membuang diriku ke samping hingga kini aku bersujud di lantai “iya, ayah ! Aku memakan mereka ! Aku tidak punya uang, tidak punya makanan. Hanya itu yang bisa kulakukan, ayah! Maafkan aku, ayah! Bebaskan aku! Aku tidak ingin dipenjara!” Teriakanku terdengar memilukan.. aku harusnya mendapatkan oscar untuk ini!

Aku bisa melihat kerbau tua itu menghampiriku dan berjongkok di depanku

“Ayah akan berusaha, jo. Ayah akan berusaha membebaskanmu” katanya pelan sambil mengelus-ngelus punggungku. Uh ingatkan aku untuk membersihkan punggungku dengan tanah sehabis ini.

“Benarkah, ayah ?” Aku segera berlutut hingga sejajar dengannya dan akhirnya aku tak perlu pura-pura sedih karena saat ini adalah saat yang tepat untuk tersenyum

“Iya, anakku. Ayah berjanj.. Ummfffhh!!” Ucapan Hartono tak sempat selesai karena aku langsung membenturkan dahiku ke hidungnya dengan keras hingga Hartono jatuh terduduk. Rasakan itu orang tua !

Aku bergerak ke belakangnya dan mengalungkan rantai borgol ini dengan ketat di lehernya yang keriput ” HAHAHAHA orang tua bodooooh! Aku tidak lagi menganggapmu ayah! Aku tidak butuh bantuanmu untuk keluar dari tempat ini! Yang aku inginkan hanyalah membunuhmu! HAHAHAHAHAH” suara tawaku sepertinya menenggelamkan suara rintihan orang tua yang sedang tidak bisa bernafas ini, dia sudah tidak bisa bergerak sepertinya atau sudah tidak bernafas.. Ah berarti waktuku bermain di sini sudah selesai.. Tinggal menunggu orang yang sudah kusewa untuk meledakkan beberapa ruangan di sini sebagai pengalihan untukku melarikan diri ! What a perfect plan !

Orang tua ini sudah benar-benar mati ya ? Ah tidak seru !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s