Hari ke-16 : The Boxer

“Ingat, defense! Block lo kurang bagus, kurang kuat makanya tembus!” Joni menasehati Febri yang sedang berkumur-kumur. Wajah Febri tampak membengkak di bebepa bagian, kelopak mata kirinya agak sedikit membengkak tapi masih ada semangat di matanya. Hal itu yang membuat Joni yakin kalau Febri masih mampu untuk menjalani sisa dua ronde lagi, atau bahkan membalikkan meja dan memenangkan pertandingan ini

“Perhatiin straightnya! Dia lambat pas narik tangannya abis straight kanan, itu kesempatan buat lo counter!” Joni sebagai coach sekaligus sahabat dan juga kakak dari Febri terus memberinya nasihat-nasihat agar Febri tetap menjaga semangatnya. Febri hanya menggangguk, mulutnya tidak lagi bisa dibuka tanpa menimbulkan rasa sakit di bagian rahangnya.

teng

Bell pertanda ronde berikutnya akan dimulai sudah berbunyi, Febri mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan sambil menatap langit-langit. ‘Ini mungkin akan jadi ronde yang terakhir. Doakan aku agar bisa memenangkan pertarungan ini, ibu’ batinnya

“Inget apa yang tadi gw bilang ya!” Ujar Joni sambil keluar ring lalu..

PLAK !

Sebuah tamparan mendarat keras di punggung Febri yang langsung melihat ke arah Joni yang hanya tersenyum jahil

“Buat keberuntungan” ucapnya

Febri tersenyum dan langsung maju ke tengah ring. Lawannya, Bruno, sudah menunggu dengan tampang penuh nafsu membunuh karena merasa di atas angin. Dia pun ingin segera menghabisi Febri yang sudah babak belur dihajar olehnya. Penonton juga merasakan bahwa ronde 11 ini akan menjadi penentuan, apakah si brutal Bruno yang akan jadi pemenang atau si lincah Febri akan merubah arah pertarungan dan membalikkan keadaan. Wasit memberi tanda untuk segera memulai pertarungan, penonton dan para staff pendukung petarungnya pun menahan nafas…

“ya pemirsa, ronde 11 sudah dimulai. Tampak Febri sudah babak belur dan kelelahan sementara Bruno masih cukup segar.. Ooh! Bruno langsung menyeduruk masuk tanpa basa basi ! Melancarkan satu-dua jab kiri cepat yang masih bisa dihindari dengan bagus oleh Febri !”

‘Aku masih bisa melihat pukulan-pukulannya’ batin Febri ‘jika aku bisa bereaksi dengan cepat, aku pasti bisa melakukan counter’ pikirnya lagi sambil mulai menggerakkan kaki-kakinya agar tubuhnya tetap siap dan mampu merespon dengan baik.

Bruno kembali melepas sebuah jab kiri dan diikuti sebuah straight kanan, sebuah one two yang begitu cepat. Febri dengan susah payah menggerakkan tubuhnya menghindari pukulan-pukulan itu, dia terfokus untuk melihat tinju kedua dari Bruno, sebuah straight yang menurut Joni adalah kelemahannya. Febri langsung melayangkan hook kiri di atas tangan kanan Bruno yang masih setengah terjulur..

“CROSS COUNTER !!! Sebuah hook kiri mendarat telak di pipi kanan Bruno ! Sebuah counter yang sangat indah berhasil dilakukan oleh Febri ! Febri kini balik menyerang Bruno yang goyah akibat counter tadi ! one two mendarat telak di wajah Bruno ! Bruno terhuyung ! Apakah dia aka.. Oooh !! Sebuah uppercut !! Dagu Bruno terhempas tinggi akibat pukulan tersebut ! Down ! Down ! Bruno terjatuh ! Apakah dia mampu bangun kembali atau kita sedang melihat akhir dari pertarungan ini ?!”

Febri berjalan ke sudut netral sementara wasit mulai menghitung

1

2

3

‘Stay down, please..’ Febri berharap dalam hatinya, dia tau kecil kemungkinan bahwa dia akan memenangkan pertandingan ini jika Bruno kembali berdiri.

4

5

6

Bruno mulai bergerak ke arah tali ring untuk membantunya berdiri, Bruno dengan susah payah menarik tubuhnya berdiri. Febri tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia yakin uppercutnya tadi mengenai dagu Bruno dengan telak tapi lawannya itu masih sanggup berdiri.

Bruno masih sanggup berdiri tapi wasit masih melanjutkan hitungannya untuk mengecek kesadaran Bruno. Oh wasit menghentikan hitungannya dan melanjutkan pertandingan ! Mampukah Febri meneruskan momentumnnya ?!

Mata Bruno sudah kembali mendapatkan fokusnya, kuda-kudanya sudah terpasang meskipun masih terlihat lemah

‘Aku akan langsung menghabisinya’ batin Febri saat dia menerjang ke arah Bruno

“AWAS, FEB !!” Teriakan Joni tidak terdengar oleh Febri. Joni tau Bruno memiliki ketahanan yang tinggi dan bisa recover dengan cepat, dia tau sebuah straight kanan akan menyambut Febri begitu adiknya itu menerjang… Dan Joni hanya bisa menutup matanya begitu terkaannya benar-benar terjadi. Straight kanan mendarat telak di wajah Febri. Suara pukulan itu terdengar nyaring membelah kesunyian di dalam arena.

Febri jatuh ! Febri jatuh ! Sebuah pukulan straight kanan menghajar wajah Febri ! Keadaan berbalik sekali lagi, apakah Febri mampu bertahan ?!

1

2

3

“Bangun, Feb, banguun! Lo masih bisa ! Inget lo bertarung buat nyokap !” Joni terus berteriak mengingatkan Febri tentang alasannya untuk bertarung

4

5

6

7

“FEB, BANGUUN !!” Teriakan penyemangat Joni tampak berpengaruh ketika Febri mulai bergerak untuk bangun, perlahan-lahan dia mulai dari berlutut, tubuhnya masih goyah. Matanya masih kosong.

8

“Ayo, Feb, lo pasti bisa !!” Joni tidak menyerah untuk menyemangati Febri

9

Febri sudah berdiri di atas dua kakinya. Wasit menghentikan hitungannya dan bergerak ke arah Febri, yang kemudian hilang kesadaran dan kembali terjatuh.

“FEBRIIIII !!!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s