Category Archives: The Farts

The Brain fart, expect nothing but random rambling

Aku merindukanmu

Di sini hujan lagi dan entah ada hubungannya atau tidak, aku merindukan kamu. Lagi.

Iya, aku merindukanmu meskipun baru beberapa jam yang lalu tangan ini melepasmu.

Aku merindukanmu, seperti tanah merah yang selalu merindukan air agar tetap liat.

Aku merindukanmu, seperti rumput hijau yang selalu merindukan sinar sang surya

Aku merindukanmu, seperti manusia yang selalu rindu akan pelangi indah sehabis hujan.

Aku merindukanmu, seperti laut yang selalu rindu akan sinar rembulan.

Aku merindukanmu, seperti kamu merindukanku

Advertisements

Jikalau

“Tanpa basa-basi, langsung saja kita panggil, Sang anak muda berbakat, Adrian Aresto!”

Aku melangkah keluar, melewati tirai begitu mendengar namaku disebut. Penonton langsung bertepuk tangan saat melihat sosokku. Aku menundukkan badanku, sekedar memberi salam. Jumlah mereka sangat banyak, ratusan, atau ribuan mungkin ? Entah lah, aku tidak peduli terhadap mereka, padahal hanya mereka yang seharusnya diperhatikan olehku, aku harus membuat mereka tertarik akan diriku dan kemampuanku tapi bagiku mereka tak lebih dari penonton biasa. Aku tidak akan gugup meskipun ini adalah untuk kali pertama aku menyanyi di depan umum dan harus tampil di depan ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang sekalipun, jika tidak ada dirinya di tengah orang-orang itu. Karena hanya di hadapannyalah aku bisa gugup, dia yang harusnya berhak mendengar permainan yang terbaikku malah lebih sering mendengar nada-nada yang meleset dan suara yang fals karena kegugupanku.

Aku duduk di depan microphone, tanganku menggenggam mantap gitar coklat kesayanganku, aku lalu mengambil nafas dalam-dalam, mengingat alasanku berada di sini… Baiklah, mari kita mulai..

Jikalau telah datang, waktu yang dinanti
ku pasti bahagiakan dirimu seorang, kuharap dikau sabar menunggu

“Suatu saat nanti aku akan bahagiain kamu. Mungkin ga sekarang, mungkin juga ga besok atau lusa, atau minggu depan tapi aku janji aku pasti akan bikin kamu bahagia. Senyum, ketawa lebar. Kita sama-sama berjuang ya!”

Berilah daku waktu, tuk wujudkan semua
janji ini untukmu ku takkan lupa ku harap dikau sabar menunggu. Kupasti akan datang untukmu

“kasih aku waktu untuk latihan lagi. Aku akan latihan lebih keras sampe jari-jari aku kapalan, supaya ga sakit lagi pas main gitar. Aku juga akan latihan nyanyi terus supaya teknik nyanyi aku makin oke! Bukan supaya suara aku bagus, kalo itu ga bisa diapa-apain lagi, udah pas-pasan! Hehehe. Aku pasti wujudin janjiku untuk nyanyiin lagu ini dengan lancar dan sempurna buat kamu. Kamu jangan nyerah dulu, Tungguin ya!”

Untaian kata-kata yang kuucapkan untukmu tak seindah kata cinta yang dia berikan padamu namun kau slalu ada di hatiku.

“Gimana ? Udah oke belum tadi ? Masih banyak salah dan fals nya ya ? hahaha maaf, aku nervous banget soalnya. Jangan dibandingin sama penyanyi aslinya, jauh laah. Yang penting sekarang kamu udah tau kalo aku udah bisa mainin lagu ini, tinggal dipoles dikit lagi deh. Kita sama sama berusaha ya!”

Berilah daku waktu tuk wujudkan semua janji ini untukmu ku tak akan lupa , kuharap dikau sabar menunggu, ku pasti akan datang untukmu

“sedikit lagi ! Sedikit lagi aku bisa untuk nyanyiin lagu ini dengan sempurna untuk kamu, ini artinya sedikit lagi aku bisa nepatin janji aku sama kamu. Kamu dulu selalu ngerek minta dinyanyiin lagu ini kan ? Tenang aja, keinginan kamu akan terpenuhi sebentar lagi ! Makanya ayo buka mata kamu sekarang, sayang…”

Jikalau telah datang, waktu yang dinanti ku pasti bahagia kan dirimu seorang, kuharap dikau sabar menunggu

Masih fals ya tadi ? Padahal aku yakin banget loh kali ini bakal sempurna! Lihat nih, ujung jariku udah keras, udah ga akan sakit lagi kalo main gitar dan teknik nyanyi aku pun udah oke kan? Tapi aku masih nervous kalo nyanyi di depan kamu, makanya salah! Hahaha. Mungkin kalo nyanyi bareng kamu, aku bisa ngebawainnya dengan sempurna. Ayo bangun, sayang, kita nyanyi sama-sama, aku janji ga akan salah kunci atau pun fals kalo nyanyi bareng kamu.. Sayang, buka mata kamu, keluarin suara kamu.. Sayang…. Sayang…”

Setelah itu tak ada lagi dirinya. Olivia Aproditia menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit milik pemerintah. Olivia tak sanggup melawan kanker paru-paru yang terus menggerogotinya. Di usia belia dia telah pergi meninggalkan keluarga, sahabat dan aku, kekasihnya. Olivia pergi, sebelum aku sempat menepati janjiku padanya.

Air mataku menetes tanpa kusadari. Pikiranku terbang kembali ke masa lalu, menggali kenangan yang telah kusimpan rapi, tentang dia yang kucintai, tentang sebuah janji yang belum terpenuhi. Penonton bertepuk tangan meriah seusai nada terakhir tak berbunyi, sorakan-sorakan terdengar memenuhi ruangan. Ini berarti aku memainkan lagumu dengan sempurna. Apakah di surga kamu mendengarnya ? Aku telah memenuhi janjiku padamu, sayang.

Song: Jikalau by Naif

Treseis

Sebuah boneka beruang kecil berwarna hitam dengan angka 6 di wajah dan di kedua lengannya membuat saya iri malam ini.

Biar saya bercerita soal boneka ini terlebih dahulu. Awalnya saya sedang bermain di sebuah tempat permainan. Saya sudah menggenggam tiket hadiahnya cukup banyak meskipun saya tak bermaksud mengumpulkannya untuk ditukar dengan hadiah apa pun, saya hanya bermain game yang menarik dan kebetulan game itu mengeluarkan tiket hadiah. Saya pun berjalan di depan etalase hadiah-hadiah yang bisa ditukar dengan sejumlah tiket, tidak ada yang menarik di mata saya sampai saya melihat boneka beruang hitam itu. Saya langsung menyukainya saat itu juga, karena saya sudah sering melihatnya, di berbagai versi, tapi belum pernah memilikinya. Dengan semangat, saya menghampiri bagian penukaran dan menghitung apakah tiket yang saya miliki sudah cukup untuk ditukar dengan boneka itu. Kekecewaan menghampiri saya ketika tiket milik saya belum memenuhi jumlah yang bisa ditukar dengan beruang hitam itu.

Tak pantang menyerah, saya mengisi ulang saldo kartu untuk bermain saya dan kembali ke mesin game yang daritadi terus mengeluarkan tiket hadiah untuk saya. Seakan ingin menyulitkan niat saya untuk memiliki boneka itu, mesin game itu rusak (atau lebih tepatnya saya yang merusak mesin itu). Saya beralih ke mesin yang lebih mudah dan lebih banyak menghasilkan tiket asal mengerti cara memainkannya. Beruntunglah saya, karena saya sering memperhatikan ayah saya yang cukup ahli memainkan mesin itu hingga akhirnya saya berhasil mendapatkan sederet panjang tiket dari mesin bergambar dinosaurus di tengahnya itu. Dengan keyakinan penuh, saya kembali ke bagian penukaran dan menukar tiket yang saya miliki dengan boneka itu. Rasa senang menjalari saya karena ini pertama kalinya saya merasa mengalahkan tempat bermain seperti itu dan boneka itu adalah trophy untuk kemenangan saya. Saya juga mengambil dua boneka berukuran kecil, boneka sapi dan singa, karena saya masih memiliki sisa tiket untuk ditukarkan.

Tapi kemudian kebingungan menghampiri saya, saya tidak yakin bisa menyimpan ketiga boneka ini dengan rapi hingga tidak hilang begitu saja untuk waktu yang lama. Karena tidak ingin trophy ini hilang tanpa jejak, saya menghubungi wanita yang sekarang menjadi penghuni otak dan hati saya lalu menawarkan tiga boneka ini untuk jadi miliknya, dia pun mengiyakan. Jujur saja, ada niat lain selain menyimpan trophy ini ketika saya menghubunginya dan ingin memberikan ketiga boneka ini padanya, wanita katanya suka dengan boneka beruang, meskipun saya yakin bukan boneka beruang yang saya miliki yang dimaksud tapi setidaknya milik saya itu tetap boneka beruang, jadi ya siapa tau dia akan suka dengan boneka itu dan suka dengan saya sebagai pemberinya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

“Jika saya bisa membuat boneka beruang ini berdiri, kamu harus ngecup pipi saya”

Kata-kata itu saya lontarkan kepada sang wanita, yang dengan mengejutkan menyanggupi permintaan saya yang menurut saya aneh dan egois mengingat posisi kami saat itu masih sebatas teman. Lalu kemudian, boneka beruang yang akhirnya berdiri itu menjadi saksi bisu kekasih saya untuk pertama kalinya mengecup pipi saya. Kenangan yang masih membuat saya tersenyum jika mengingatnya. Kecupan di pipi pertama yang saya dapatkan dari kekasih saya bisa terjadi karena boneka itu, saya berhutang padanya.

Kemudian kami, saya dan kekasih saya, memanggil boneka itu dengan nama Treseis. Diambil dari bahasa spanyol, ‘Tre’ yang berarti tiga dan ‘Seis’ yang berarti enam. Tiga enam. Karena di tubuhnya terdapat tiga angka enam, di wajah dan di kedua bahunya. Sebenarnya saya tidak tahu apakah dalam bahasa spanyol, padanan kata untuk nama itu benar atau tidak tapi saya tidak perduli karena nama Treseis terdengar keren.

Sekarang kita kembali membahas soal saya yang sedang iri dengan boneka beruang hitam itu, Treseis. Suatu ketika saya bertanya kepada kekasih saya soal dimana Treseis di simpan olehnya dan di kamarnya adalah jawabannya. Jadi di malam ketika saya sedang rindu kekasih saya tapi saya tidak bisa bertemu dengannya, seperti malam ini, saya iri dengan Treseis karena dia berada di kamar kekasih saya sementara saya berada di atas kasur sendirian, memikirkan tentang boneka beruang kecil berwarna hitam dan seorang wanita yang memegang hati saya.

Tea and Sugar

Cling

Cling

Cling

Suara benturan sendok besi dan gelas kaca mengisi keheningan yang terjadi. Aku terus memperhatikan bagaimana gula-gula itu larut ke dalam teh, membuat teh yang hambar menjadi manis karenanya. Butiran gula itu melayang terbawa arus pusaran kecil akibat gerakan sendok yang berputar, meleburkan manisnya hingga teh berwarna coklat bening itu menjadi lebih nikmat.

“Kamu serius banget sih” kata orang di depanku. Mengalihkan perhatianku yang tadinya tertuju pada gelas menjadi ke arahnya.

“Hehehe” aku hanya tersenyum kecil dan kembali mengarahkan pandanganku ke arah gelas, menghiraukan wanita yang duduk di depanku.

Wanita di depanku ini terlihat menawan. Dengan rambut panjang yang tergerai hingga ke punggungnya, membingkai wajahnya yang cantik. Dia lah gula dalam teh kehidupanku, atau begitu lah keinginanku awalnya. Aku melihatnya dirinya sebagai apa yang kurang dalam diriku, seperti teh hambar yang membutuhkan gula agar menjadi manis. Aku yang pendiam, mengurung diriku dengan pagar duri untuk menghindari bertemu orang lain sementara dia begitu terbuka, seperti bunga mekar yang senantiasa menghadap matahari dengan sumringah dan dikelilingi oleh serangga-serangga. Aku terus berusaha melebur dengannya, berharap aku yang hambar ini bisa menjadi manis sepertinya tapi sayang, dia terlalu manis hingga usaha untuk meleburnya hanya membuatku menyadari betapa hambarnya diriku dan malah membuatku mempertebal pagar duri di sekelilingku, karena aku sadar bahwa tak mungkin aku bisa sedikit pun menjadi manis sepertinya, maka lebih baik aku makin menenggelamkan diriku dalam kesendirian yang telah setia menemaniku

“Kamu lucu deh kalo lagi serius gitu”

Hanya untuknya, wanita gula kesayanganku, aku membuka pagar duri pelindungnku.

sekilas saja

Ini kenapa ya, ada perasaan kayak pengen keluar. Tanggung jawabnya gede di sini dan gw ngerasa belom tau apa-apa, ditambah lagi jaraknya jauh. Ditambah lagi ngeliat masalah tadi. Gw jadi bingung sendiri, ada kayak perasaan ga nyaman di dada gw. Ga tau ini kenapa, ada perasaan yg salah atau penyakit males gw keluar lagi

fractura hepatica

sometimes, it’s morning. and i’ve forgotten to brush my hair again. or how to tie my shoes or what my name sounds like. And that i don’t believe in anything anymore and that’s when I realize that i’m losing little pieces of myself to you and the tip of my tongue is stained with the taste of stale paint from the renovating you’ve done with my mind and for the next four hundred and seventy three and a half hours i’ll be staring at the ceiling. since i’m waiting for your flavor to fade. or maybe i’m just waiting for you to come back to me. since my fingertips are losing their feeling and the strands of my hairs are splitting. I’m aging in reverse. or fast forward. and the next time you see me, i’ll be older than i’ve ever been
before. so press play since i’m sick of being stuck on pause and some days, when i’m waiting for the earth to move again, i count every one of my eyelashes and measure the distance it would take for them to fall so i can calculate all the wishes i’m missing and in a hundred and fifty one days, maybe i can wish that you never happened or maybe i can wish that you really did love me. and sometimes, I pray since i like the feel of your name in my mouth and the way that pretend tastes and the fact that maybe repeating something is enough to make it true. but the truth is this feeling is the exact opposite of believing. and right now, i want to be twenty three minutes into forgetting you but instead i’m watching your lies change shape as i go backwards through my memories. i like to watch your carefully pronounced vowels wrap into endless loops where you and i become concentric circles since that’s all we are. we’ll never touch and we’ll never go anywhere again. but all i am are my words. and sometimes, they’re not enough. and maybe i’ve wasted the last forty seven minutes trying to convince myself that “love” and “in love” are two very different concepts. maybe they’re not. and maybe if they are, it doesn’t matter. since maybe i say i’m not in love. but i’m a liar. the problem is so are you. you once told me, my heartbeat was your favorite song. well, broken hearts don’t beat anyway.

falling asleep and waking up (english version)

I wake up tired.
I wake up tired and it’s afternoon again.
I wake up tired and I am alone.

It’s like every night i fall asleep with you on my mind, and I quickly sort through my thoughts leaving the prettiest ones on top so I can try them on in the morning. So everyday, I wake up and try on being in love with you. Except every morning, it’s three inches too big or a centimeter and a half too small or it’s brushing my kneecaps like it’s too long. But I wear it anyways, since I’m used to being a shade left of ordinary or two steps past crazy. I’m used to wearing love and I’m used to you.

I’m used to falling asleep next to you and waking up alone.

___

You call me.
You call me adorable and I like it.
You call me your own and it feels like a fairy tale.

We spend the weekends curled up on iced lakes like mirrors, scratching our stories into their frozen surfaces, and you write about adventures you’ll never have and places you’ll never go with a boy I wish I could always be. And I write about you with your soft-glowing skin and glittering strands of hair that lie awkwardly against your forehead. I write like it’s a fairy tale. I write like the phone will always ring and it will always be you. I write like we’re in love.

I write that I’m falling asleep alone and waking up next to you.
___

I lay.
I lay in seas of blankets and feel like I’m drowning.
I lay next to you and for the first time, it feels right .

Maybe we’re sleeping on opposite edges of the bed afraid to get too close — afraid that our bones won’t fit right or our lips won’t lock and we won’t stay together. So we lay with space between us but with our elbows knocking together just three inches from our hearts. We sleep like this since I’m afraid of what would happen if there weren’t layers and excuses between us. So I wrap myself in your sheets and stare at the ceiling since all I want to do is stare at you. You’re always asking me what I’m really thinking, and I lie. I tell you I’m thinking of going home. I tell you I’m in love with the girl that lives down the road or that sometimes, I feel like the stars are blinking at me.
You ask me what I’m thinking and this time I tell you the truth.

I tell you that I’m thinking of falling asleep and waking up next to you.