Tag Archives: 30 Hari Bercerita

Hari ke-18 : Langit Malam

Wahai langit malam, jadikanlah aku mimpi yang menghiasi di setiap tidurnya, meskipun ketika pagi datang, aku akan terlupa

Wahai langit malam, jadikan lah aku angin sepoi sepoi ketika dia terlelah, meskipun aku tau aku hanya akan jadi angin lalu

Wahai langit malam, jadikan lah aku segelas minuman hangat untuk menghangat dia ketika hujan datang, meskipun aku tau aku akan segera habis dan terlupakan

Wahai langit malam, jadikan lah aku bintang agar aku bisa menatapnya ketika dia melihatmu, meskipun aku tau aku mungkin tak terlihat karena cahaya sang bulan

Wahai langit malam, jadikan lah aku debu dibawah cerminnya,agar aku selalu bisa melihat senyumnya walau itu tak pernah untukku..

Hari ke-17 : Would You ?

If I hugged you,
would you never let go?
If I kissed you,
would you cherish that moment?
If I reached for your hand,
would you take mine gently?
If I needed a shoulder,
would you let me cry on yours?
If I needed to talk,
would you really listen?
If I needed to scream,
would you do it with me?
If I needed to go,
would you come with me?
If I fell for you,
would you catch me?
or just let me hit the pavement?

Hari ke-16 : The Boxer

“Ingat, defense! Block lo kurang bagus, kurang kuat makanya tembus!” Joni menasehati Febri yang sedang berkumur-kumur. Wajah Febri tampak membengkak di bebepa bagian, kelopak mata kirinya agak sedikit membengkak tapi masih ada semangat di matanya. Hal itu yang membuat Joni yakin kalau Febri masih mampu untuk menjalani sisa dua ronde lagi, atau bahkan membalikkan meja dan memenangkan pertandingan ini

“Perhatiin straightnya! Dia lambat pas narik tangannya abis straight kanan, itu kesempatan buat lo counter!” Joni sebagai coach sekaligus sahabat dan juga kakak dari Febri terus memberinya nasihat-nasihat agar Febri tetap menjaga semangatnya. Febri hanya menggangguk, mulutnya tidak lagi bisa dibuka tanpa menimbulkan rasa sakit di bagian rahangnya.

teng

Bell pertanda ronde berikutnya akan dimulai sudah berbunyi, Febri mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan sambil menatap langit-langit. ‘Ini mungkin akan jadi ronde yang terakhir. Doakan aku agar bisa memenangkan pertarungan ini, ibu’ batinnya

“Inget apa yang tadi gw bilang ya!” Ujar Joni sambil keluar ring lalu..

PLAK !

Sebuah tamparan mendarat keras di punggung Febri yang langsung melihat ke arah Joni yang hanya tersenyum jahil

“Buat keberuntungan” ucapnya

Febri tersenyum dan langsung maju ke tengah ring. Lawannya, Bruno, sudah menunggu dengan tampang penuh nafsu membunuh karena merasa di atas angin. Dia pun ingin segera menghabisi Febri yang sudah babak belur dihajar olehnya. Penonton juga merasakan bahwa ronde 11 ini akan menjadi penentuan, apakah si brutal Bruno yang akan jadi pemenang atau si lincah Febri akan merubah arah pertarungan dan membalikkan keadaan. Wasit memberi tanda untuk segera memulai pertarungan, penonton dan para staff pendukung petarungnya pun menahan nafas…

“ya pemirsa, ronde 11 sudah dimulai. Tampak Febri sudah babak belur dan kelelahan sementara Bruno masih cukup segar.. Ooh! Bruno langsung menyeduruk masuk tanpa basa basi ! Melancarkan satu-dua jab kiri cepat yang masih bisa dihindari dengan bagus oleh Febri !”

‘Aku masih bisa melihat pukulan-pukulannya’ batin Febri ‘jika aku bisa bereaksi dengan cepat, aku pasti bisa melakukan counter’ pikirnya lagi sambil mulai menggerakkan kaki-kakinya agar tubuhnya tetap siap dan mampu merespon dengan baik.

Bruno kembali melepas sebuah jab kiri dan diikuti sebuah straight kanan, sebuah one two yang begitu cepat. Febri dengan susah payah menggerakkan tubuhnya menghindari pukulan-pukulan itu, dia terfokus untuk melihat tinju kedua dari Bruno, sebuah straight yang menurut Joni adalah kelemahannya. Febri langsung melayangkan hook kiri di atas tangan kanan Bruno yang masih setengah terjulur..

“CROSS COUNTER !!! Sebuah hook kiri mendarat telak di pipi kanan Bruno ! Sebuah counter yang sangat indah berhasil dilakukan oleh Febri ! Febri kini balik menyerang Bruno yang goyah akibat counter tadi ! one two mendarat telak di wajah Bruno ! Bruno terhuyung ! Apakah dia aka.. Oooh !! Sebuah uppercut !! Dagu Bruno terhempas tinggi akibat pukulan tersebut ! Down ! Down ! Bruno terjatuh ! Apakah dia mampu bangun kembali atau kita sedang melihat akhir dari pertarungan ini ?!”

Febri berjalan ke sudut netral sementara wasit mulai menghitung

1

2

3

‘Stay down, please..’ Febri berharap dalam hatinya, dia tau kecil kemungkinan bahwa dia akan memenangkan pertandingan ini jika Bruno kembali berdiri.

4

5

6

Bruno mulai bergerak ke arah tali ring untuk membantunya berdiri, Bruno dengan susah payah menarik tubuhnya berdiri. Febri tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia yakin uppercutnya tadi mengenai dagu Bruno dengan telak tapi lawannya itu masih sanggup berdiri.

Bruno masih sanggup berdiri tapi wasit masih melanjutkan hitungannya untuk mengecek kesadaran Bruno. Oh wasit menghentikan hitungannya dan melanjutkan pertandingan ! Mampukah Febri meneruskan momentumnnya ?!

Mata Bruno sudah kembali mendapatkan fokusnya, kuda-kudanya sudah terpasang meskipun masih terlihat lemah

‘Aku akan langsung menghabisinya’ batin Febri saat dia menerjang ke arah Bruno

“AWAS, FEB !!” Teriakan Joni tidak terdengar oleh Febri. Joni tau Bruno memiliki ketahanan yang tinggi dan bisa recover dengan cepat, dia tau sebuah straight kanan akan menyambut Febri begitu adiknya itu menerjang… Dan Joni hanya bisa menutup matanya begitu terkaannya benar-benar terjadi. Straight kanan mendarat telak di wajah Febri. Suara pukulan itu terdengar nyaring membelah kesunyian di dalam arena.

Febri jatuh ! Febri jatuh ! Sebuah pukulan straight kanan menghajar wajah Febri ! Keadaan berbalik sekali lagi, apakah Febri mampu bertahan ?!

1

2

3

“Bangun, Feb, banguun! Lo masih bisa ! Inget lo bertarung buat nyokap !” Joni terus berteriak mengingatkan Febri tentang alasannya untuk bertarung

4

5

6

7

“FEB, BANGUUN !!” Teriakan penyemangat Joni tampak berpengaruh ketika Febri mulai bergerak untuk bangun, perlahan-lahan dia mulai dari berlutut, tubuhnya masih goyah. Matanya masih kosong.

8

“Ayo, Feb, lo pasti bisa !!” Joni tidak menyerah untuk menyemangati Febri

9

Febri sudah berdiri di atas dua kakinya. Wasit menghentikan hitungannya dan bergerak ke arah Febri, yang kemudian hilang kesadaran dan kembali terjatuh.

“FEBRIIIII !!!”

Hari ke-15 : The Coup D’etat

Dor ! Dor ! Dor !

Suara tembakan terdengar dari semua sisi. Atas, bawah, kiri, kanan. Semua orang sepertinya memegang senjata dan menembakannya asal-asalan berharap bakal kena sesuatu. Dan sesuatu itu bisa aja gw, pemuda biasa yang bisa-bisanya terjebak ditengah usaha kudeta macam ini !

Kudeta ini terjadi di tengah jalan di sebuah pusat kota. Rakyat udah muak sama bapak pemimpin yang kerjanya cuma korupsi dan jalan-jalan sana sini, banyak yg udah muak tapi cuma demo, demo, dan demo memaksa revolusi yang hanya menghasilkan macet. Seorang jendral akhirnya, yang menurut gw karena udah cape sendiri tiap mau pergi kena macet akibat demo itu, mengumpulkan massa dan menggerakkannya hari ini. Desas desus kalo si jendral ngumpulin massa udah lama kedengeran tapi entah kenapa cuma dianggep angin lalu dan ga ada follow up sampai akhirnya desas desus itu terbukti benar hari ini. Apakah sang jendral akan menjadi pemimpin yg baik ? Hell no, mengambil alih suatu negara dengan kekerasan dan berharap akan ada pemimpin yang baik sebagai hasilnya ? Itu namanya gila. Soalnya kalo dia emang orang baik melalui jalur yang seharusnya kalo mau jadi pemimpin. Nunggu 2 tahun gapapa lah, rakyat banyak yang udah kebiasa susah dari lahir, jadi orang susah dua tahun lagi itu ga ada artinya buat mereka. Yang ribet itu justru orang atas, mereka takut bakalan miskin kalo bapak pemimpin yang sekarang mintanya makin banyak, makanya mereka heboh, cari pemimpin baru yang masih bisa dibayar rendah dan terpilih lah jendral itu. Kelas menengah ? Kelas menengah itu ga ada, itu cuma grup imajiner bikinan orang-orang atas yang ga mau rugi dikenakan efek samping sebagai orang atas. Itu semua teori gw, seorang pria biasa yang terjebak di bawah hujan peluru.

Gimana ceritanya gw bisa terjebak di sini ? Bukaan, gw bukan wartawan yang dengan sukarela menerjunkan diri ke tengah air mancur amunisi. Gw cuma seorang pria biasa yang baru aja pulang setelah mutusin pacar, oh maaf, mantan pacar gw. Kadang kesialan itu ga puas kalo nyamperin lo sekali doang, dia bakal dateng berkali-kali sampe elo mengutuk diri lo sendiri karena hal-hal sial yang menimpa lo. Kayak gw, gw pria biasa, ga ganteng, ga keren, ga tajir (yep, gw merupakan definisi dari kelas bawah yang tadi gw udah omongin), ga pinter ngomong. Ya pokoknya gw biasa aja deh, bahkan cenderung ngebosenin. kalo kita ngobrol 10 menit, 9 menit dari itu akan kita habiskan dengan buka twitter dan stalk timeline pacar karena kita berdua merupakan orang dengan level insecurity yang memprihatinkan sementara satu menit sisanya dihabiskan dengan ucapan “gw ke toilet dulu ya” yang kita bilang secara bergantian. Gw baru aja mutusin pacar gw karena gw seperti apa yang baru aja gw jelasin. Sebenernya itu cuma masalah waktu, sama kayak rasa muak rakyat yang mutusin ikut bantu usaha kudeta si jendral, hubungan gw dan mantan gw itu kayak bom waktu yang bisa meledak kapan aja. The main problem was she deserved someone that way better than me, the almost-average-guy. Jadi ya gw agak legowo.. Ga berarti sakit hati sih, tetep aja ini hati rasanya kayak gajah abis nelen granat tangan. Hancur. Perasaan dimana elo sayang dan disayang sama seseorang tapi lo ga bisa bahagiain dia dan satu-satunya cara untuk lo bahagiain dia adalah dengan elo pergi dari dia dan membiarkan dia untuk mendapatkan yang lebih baik dari lo itu merupakan salah satu perasaan tersakit menurut gw. Dan seakan-akan perasaan itu belum cukup untuk bikin gw galau, sekarang gw terjebak di tengah usaha kudeta. Mau gw mampusin rasanya bapak pemimpin penyebab usaha ini dan si jendral yang bikin kudeta ini jadi nyata tapi yang lebih pengen gw mampusin itu diri gw sendiri, yang sekarang lagi nangis dibawah gerobak nasi goreng ga berani ngapa-ngapain atas semua hal yang terjadi sama gw, baik soal mantan pacar atau pun keadaan sekarang ini.

Hari ke-14: Let Me Go

Watch
The blood
Drip from me.
What do you see?
A lonely soul without a dream to live?
A fading child without a gift to give?
Will you cry then,
For my sins?
Will you
Please?
Weep,
Sweet tears,
In my name?
Carry my fame?
Remember me for all I tried to be.
Not what I am now, not for what you see.
Now let me go;
Soft and slow
Towards
Death.
Fate.
Release.
Let me drift.
Accept the gift.
Let death embrace this weeping child in pain.
Let blood and tears mingle within the rain.
I’m fading now.
Please allow
Fate to Win.
When
Will you
Turn your eyes,
And say goodbye?
When the earth is stained with my
redemption?
When will your soul give your eyes permission?
Maybe never.
Forever
Release
Me.

Hari ke-11 : Rose suit you so

I won’t send roses
Or hold the door
I won’t remember
Which dress you wore
My heart is too much in control
The lack of romance in my soul
Will turn you grey
So stay away
Forget my shoulder
When you’re in need
Forgetting birthdays
Is guaranteed
And should I love you, you would be
The last to know
I won’t send roses
And roses suit you so
My pace is frantic
My temper’s cross
With words romantic
I’m at a loss
I’d be the first one to agree
That I’m preoccupied with me
And it’s inbred
So keep your head
In me you’ll find things
Like guts and nerve
But not the kind of things
That you deserve
And so while there’s a fighting chance
Just turn and go
I won’t send roses
And roses suit you so

hari ke-10 : Aku Benci Pagi

Aku benci pagi

Bukan karena alarm yang terus mengolok-olokku ketika aku keluar dari ranjangku

Bukan karena dinginnya lantai yang merenggut kehangatan dari kakiku

Bukan karena perjalanan yang seakan tak berujung menuju kamar mandi

Bukan karena kelopak mata yang membengkak yg menghiasi wajah yang tidak rupawan ini

Bukan karena cermin yang dengan senang hati mengingatkanku bahwa aku terkutuk untuk selalu merengut

Bukan karena barang barang yang kubutuhkan untuk rutinitas pagi hari meningatkanku tentang hal-hal tidak penting yang terus kulakukan hari demi hari

Bukan karena momen dimana sebuah senyuman muncul diwajahku ketika aku mencoba menipu diriku sendiri agar percaya bahwa hari ini akan berbeda…

…. Dan bukan karena bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca yang menggantikan senyum tadi begitu aku menyadari apa alasanku membenci pagi…

Aku benci pagi…

… Karena aku membenci diriku sendiri